Puskesmas Manutapen Kupang

Info Kesehatan

MENCEGAH STUNTING DENGAN ASI EKSKLUSIF Featured

Ditulis Oleh Agnes | Kamis, 24 Jun 2021 03:17
Beri Rating
(2 votes)
ASI mencegah stunting ASI mencegah stunting dok. PKM Manutapen

Stunting atau perawakan pendek merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak kurang dari tinggi badan normal anak seusianya. Stunting ditandai dengan nilai z-score untuk indikator tinggi badan menurut umur kurang dari -2 standar deviasi. Penyebab langsung  gangguan pertumbuhan ini karena kurangnya asupan zat gizi dalam jangka waktu yang cukup lama serta penyakit infeksi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting pada balita secara nasional sebesar 37,2% dan pada tahun 2018 turun menjadi 30,8%.

Data Riskesdas tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 menunjukan Provinsi Nusa Tenggara Timur menduduki peringkat pertama dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Prevalensi stunting di NTT pada tahun 2013 sebesar 51,7% dan mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 42,6%.  Walupun terjadi penurunan, namun angka tersebut berada di atas angka nasional dan belum mencapai target Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019 yakni sebesar 28% dan target SDGs yang telah ditetapkan yakni menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025.

Stunting memiliki dampak yang buruk terhadap perkembangan otak dan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anak. Berbagai hasil penelitian menunjukan kecenderungan penurunan prestasi pada anak stunting dibandingkan dengan anak normal. Jika tidak ditangani secara baik kemungkinan akan menurunkan kesempatan kerja dengan pendapatan yang lebih baik dan berdampak pula bagi perekonomian bangsa. Di samping itu, anak yang stunting cenderung memiliki peluang menjadi obes dan berpeluang menderita penyakit degenerative pada saat dewasa seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner dan lainnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan angka stunting. Bahkan, Upaya Penanggulangan Stunting merupakan program prioritas pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satu upaya pencegahan antara lain pemenuhan kebutuhan gizi mulai dari saat konsepsi sampai anak berusia dua tahun atau dikenal dengan seribu hari pertama kehidupan (1000HPK). Pada masa ini, kebutuhan gizi anak harus dipenuhi  secara optimal karena pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara pesat atau dikenal dengan periode emas. Pada masa kehamilan, janin memperoleh asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibunya dengan kata lain apa yang dimakan oleh ibu itulah yang dimakan oleh janin. Ini berarti 100% asupan gizi terpenuhi dari ibunya, jika ibu mengkonsumsi gizi dengan tidak adequate maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin. Lalu bagaimana dengan asupan gizi setelah lahir?

ASI atau Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik bagi bayi baru lahir. Dalam ASI terkandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pada saat berusia 0-6 bulan, ASI dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu, ASI bersifat eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa adanya tambahan makanan lain seperti teh, kopi, madu, bahkan susu formula sampai bayi berusia 6 bulan. ASI memiliki jumlah dan komposisi yang paling sempurna dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi terutama bagi pertumbuhan tulang dan gigi. Di samping itu, ASI kaya akan imunoglobin yang berperan sebagai ketahanan tubuh melawan penyakit infeksi yang rentan diderita oleh bayi. Itulah mengapa pemberian ASI eksklusif diyakini dapat mencegah bayi dari stunting. Oleh karena itu, mari kita bersama mencegah stunting dengan memberikan ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. ?

Dibaca 102 Kali