Agnes Rihi Leo

Agnes Rihi Leo

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Vaksinasi covid-19 sudah dilakukan sejak Bulan Januari 2021. Program Vaksinasi ini dibuat secara bertahap guna mendorong terbentuknya herd immunity (kekebalan kelompok) dalam menghadapi pandemi covid-19. Tahap pertama berlangsung hingga bulan April 2021 dengan target prioritas adalah  tenaga kesehatan. Dilansir dari situs berita IDN Times tanggal 16 Februari 2021, berdasarkan catatan Koalisi warga untuk Lapor covid-19, jumlah tenaga kesehatan yang gugur akibat covid-19 Sejak awal masa pandemi di Indonesia pada bulan Maret 2020 hingga pertengahan Februari 2021 tercatat sebanyak 757 jiwa, padahal untuk melahirkan tenaga kesehatan butuh 4-7 tahun. Jumlah kematian terbanyak adalah dokter sebanyak 317 jiwa dan diikuti tenaga perawat dan bidan. Hilangnya tenaga kesehatan ini sangat berbahaya karena akan mengancam sistem kesehatan di Indonesia. Oleh karena itu, Kelompok ini dinilai penting untuk diberikan vaksin covid-19 karena selain untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit dan mengurangi jumlah tenaga kesehatan yang meninggal akibat covid-19 juga akan melindungi keluarganya serta pasien yang dirawat.

Yang menjadi pertanyaan saat ini, apakah terjadi penurunan jumlah kematian dan keterpaparan covid 19 pada tenaga kesehatan usai divaksinasi?

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI melakukan kajian cepat terhadap keefektifan vaksin Sinovac terhadap infeksi covid-19 baik perawatan maupun kematian khususnya kepada tenaga kesehatan. Kajian ini dilakukan pada periode 13 Januari hingga 18 Maret 2021 dengan fokus pada tenaga kesehatan di wilayah DKI Jakarta baik yang belum divaksinasi maupun yang telah divaksin covid 19, baik itu dosis pertama maupun yang sudah vaksinasi lengkap dengan 2 dosis. Hasil kajian menunjukan bahwa vaksinasi sinovac dengan 2 dosis (dosis lengkap) dapat menurunkan risiko covid 19 sebesar 94%. Tak hanya itu, pemberian vaksinasi sinovac dosis lengkap dapat mencegah risiko perawatan karena covid 19 sebesar 96% dan juga mencegah kematian karena covid sebesar 98%. Hasil pengkajian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa vaksinasi sinovac dosis lengkap itu secara signifikan dapat menurunkan risiko dan mencegah covid-19 dengan gejala.

Bagaimana dengan jenis vaksin lainnya yang saat ini digunakan di Indonesia?

Sebelum diedarkan dan digunakan di Indonesia, vaksin akan melalui beberapa tahapan uji klinis untuk dikelurkan izin edarnya. Uji klinis ini dilakukan oleh BPOM untuk melihat dan memastikan efektifitas vaksin yakni sejauh mana vaksin itu dapat membangun imunitas dan apakah imunitas yang dibangun mampu menangkal virus tersebut. Selain itu, uji klinis dilakukan untuk memastikan keamanan vaksin ini yaitu membandingkan keuntungan yang kita terima daripada efek samping yang ditimbulkan setelah divaksinasi. Lagipula, tidak bisa jika hanya mengandalkan satu jenis vaksin saja mengingat jumlah kelompok rentan yang sangat besar di Indonesia oleh karena itu, kebutuhan akan vaksin covid 19 juga sangat besar.

Bagaimana setelah divaksin?

Ingat, vaksinasi tidak menjamin 100% kita tidak tertular covid 19. Namun, apabila kita terinfeksi covid-19 maka akan menurunkan risiko kematian atau mempersingkat waktu perawatan bahkan terkadang terinfeksi tidak menunjukan gejala sama sekali. Oleh karena itu, tetap tegakan protocol kesehatan yakni mencuci tangan dengan sabun atau cairan berbahan dasar alkohol, menggunakan masker, menjaga jarak, mencegah kerumunan serta membatasi mobilisasi.

Mengingat manfaat vaksinasi covid-19 yang begitu besar, ayo siapkan lenganmu untuk divaksin, mumpung masih gratis ?.

Virus corona merupakan virus penyebab covid 19 dan muncul pertama kali di Wuhan pada tahun 2019.  Pada bulan Maret 2020 virus masuk ke Indonesia setelah dua orang WNI terkonfirmasi positif covid 19. Hingga saat ini, data terkonfirmasi positif di Indonesia melebihi 1 juta. Virus corona merupakan jenis virus yang mudah mengalami mutasi. Mutasi virus adalah perubahan materi genetik virus yang dapat mempengaruhi struktur dan cara kerja virus.  Baru-baru ini Kementerian Kesehatan RI menyampaikan adanya dua kasus positif Covid-19 dengan mutasi virus corona dari Inggris atau B.1.1.7 pada Maret 2021 (Dua kasus tersebut merupakan hasil temuan dari 462 sampel yang diperiksa).

Mutasi virus Corona B.1.1.7 pertama kali diumumkan di Inggris pada Desember 2020.  Memang belum ada bukti ilmiah yang mengatakan virus corona varian B.1.1.7 lebih ganas dari sebelumnya, tetapi beberapa penelitian di negara lain menunjukan varian virus baru ini lebih cepat menular dibandingkan varian lama. Varian virus ini menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat, apalagi setelah Provinsi NTT masuk dalam 5 besar jumlah kasus positif covid-19 pada awal Mei ini. Belum lagi muncul keraguan di tengah masyarakat akan efektivitas vaksin covid-19 yang digunakan saat ini untuk melindungi diri kita dari virus varian baru ini. Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid menegaskan bahwa vaksin Covid-19 yang saat ini digunakan efektif terhadap mutasi virus Covid 19. Vaksin covid-19 dapat membentuk kekebalan kelompok atau Herd Immunity. Namun hal tersebut terjadi jika cakupan vaksinasi covid-19 tinggi. Dan ingat bahwa vaksinasi covid-19 tidak memberikan jaminan 100% seseorang tidak akan tertular covid-19 tetapi jika tertular tidak memberikan efek berat yang menimbulkan kematian. Oleh karena itu, untuk mencegah penularan Covid-19 varian baru ini, dihimbau untuk terus menjalankan protokol kesehatan dengan 5 M yakni menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilisasi. Protokol kesehatan ini wajib dilakukan oleh setiap orang walaupun telah menerima vaksin covid-19.