Displaying items by tag: stunting

Stunting atau perawakan pendek pada anak merupakan masalah gizi kurang yang ditandai dengan panjang badan atau tinggi badan anak kurang dibandingkan dengan tinggi badan atau panjang badan anak normal di usianya, dengan nilai z-score kurang dari -2 standar deviasi. Penyebab utama masalah gizi ini antara lain konsumsi zat gizi yang tidak adekuat di mana zat gizi yang dikonsumsi kurang dari jumlah zat gizi yang dibutuhkan serta kejadian penyakit infeksi.

Data Riskesdas tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 menunjukan angka prevalensi stunting di  Provinsi Nusa Tenggara Timur menduduki peringkat pertama di Indonesia. Prevalensi stunting di NTT pada tahun 2013 sebesar 51,7% dan mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 42,6%.  Walupun terjadi penurunan, namun angka tersebut berada di atas angka nasional dan belum mencapai target Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019 yakni sebesar 28% dan target SDGs yang telah ditetapkan yakni menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025.

Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat yang berarti diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat guna mempermudah masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk menurunkan kematian ibu, bayi dan balita. Kegiatan utama yang dilakukan di posyandu antara lain Kesehatan ibu dan Anak, Imunisasi, Gizi, Keluarga Berencana dan Pendidikan Pola Hidup Sehat. Kegiatan gizi yang dimaksudkan antara lain pemantauan tumbuh kembang anak melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan bayi/balita setiap bulan, pendidikan/konseling gizi serta intervensi gizi bagi bayi/balita yang mengalami masalah gizi.

Sejatinya, tinggi badan atau panjang badan anak akan bertambah seiring dengan pertambahan usianya. Pertambahannya pun berbeda di setiap tahapan umur. Dengan melakukan pengukuran tinggi badan di posyandu, ibu akan mengetahui apakah anaknya mengalami gangguang pertumbuhan atau tidak melalui grafik pertumbuhan menurut umur. Jika anak mengalami masalah tumbuh kembang maka akan diberikan intervensi gizi sedini mungkin melalui konseling gizi atau pemberian makanan tambahan oleh petugas gizi di posyandu. Dengan demikian, masalah gizi yang dialami anak tidak menjadi berat dan tumbuh kembangnya dapat berjalan optimal sehingga kejadian stunting pada anak dapat dicegah. Oleh karena itu, penting bagi ibu membawa anaknya ke posyandu untuk dilakukan pengukuran berat dan tinggi/panjang badan guna memantau tumbuh kembang si kecil.

Stunting atau perawakan pendek merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak kurang dari tinggi badan normal anak seusianya. Stunting ditandai dengan nilai z-score untuk indikator tinggi badan menurut umur kurang dari -2 standar deviasi. Penyebab langsung  gangguan pertumbuhan ini karena kurangnya asupan zat gizi dalam jangka waktu yang cukup lama serta penyakit infeksi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting pada balita secara nasional sebesar 37,2% dan pada tahun 2018 turun menjadi 30,8%.

Data Riskesdas tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 menunjukan Provinsi Nusa Tenggara Timur menduduki peringkat pertama dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Prevalensi stunting di NTT pada tahun 2013 sebesar 51,7% dan mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 42,6%.  Walupun terjadi penurunan, namun angka tersebut berada di atas angka nasional dan belum mencapai target Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019 yakni sebesar 28% dan target SDGs yang telah ditetapkan yakni menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025.

Stunting memiliki dampak yang buruk terhadap perkembangan otak dan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anak. Berbagai hasil penelitian menunjukan kecenderungan penurunan prestasi pada anak stunting dibandingkan dengan anak normal. Jika tidak ditangani secara baik kemungkinan akan menurunkan kesempatan kerja dengan pendapatan yang lebih baik dan berdampak pula bagi perekonomian bangsa. Di samping itu, anak yang stunting cenderung memiliki peluang menjadi obes dan berpeluang menderita penyakit degenerative pada saat dewasa seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner dan lainnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan angka stunting. Bahkan, Upaya Penanggulangan Stunting merupakan program prioritas pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Salah satu upaya pencegahan antara lain pemenuhan kebutuhan gizi mulai dari saat konsepsi sampai anak berusia dua tahun atau dikenal dengan seribu hari pertama kehidupan (1000HPK). Pada masa ini, kebutuhan gizi anak harus dipenuhi  secara optimal karena pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara pesat atau dikenal dengan periode emas. Pada masa kehamilan, janin memperoleh asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibunya dengan kata lain apa yang dimakan oleh ibu itulah yang dimakan oleh janin. Ini berarti 100% asupan gizi terpenuhi dari ibunya, jika ibu mengkonsumsi gizi dengan tidak adequate maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin. Lalu bagaimana dengan asupan gizi setelah lahir?

ASI atau Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik bagi bayi baru lahir. Dalam ASI terkandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pada saat berusia 0-6 bulan, ASI dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu, ASI bersifat eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa adanya tambahan makanan lain seperti teh, kopi, madu, bahkan susu formula sampai bayi berusia 6 bulan. ASI memiliki jumlah dan komposisi yang paling sempurna dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi terutama bagi pertumbuhan tulang dan gigi. Di samping itu, ASI kaya akan imunoglobin yang berperan sebagai ketahanan tubuh melawan penyakit infeksi yang rentan diderita oleh bayi. Itulah mengapa pemberian ASI eksklusif diyakini dapat mencegah bayi dari stunting. Oleh karena itu, mari kita bersama mencegah stunting dengan memberikan ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. ?

MENCEGAH STUNTING DENGAN ASI EKSKLUSIF

Kamis, 24 Jun 2021 03:17
Dipublikasi pada : Info Sehat
Artikel Tags :

Kegiatan operasi timbang Puskesmas Manutapen rutin dilakukan setiap bulan. Kegiatan yang dilakukan dengan melakukan pengukuran antropometri anak antara lain pengukuran Tinggi Badan (TB)/Panjang Badan (PB), Berat Badan (BB), dan Lingkar Lengan Atas (LILA) anak.Tujuan dari pengukuran antropometri ini agar dapat diketahui perkembangan dan pertumbuhan anak, apakah anak menunjukan perubahan perkembangan dan pertumbuhan yang baik atau sebaliknya. Pertumbuhan yang baik ditunjukan apabila ukuran antropometri anak sesuai dengan standar ukuran antropometri anak normal di usianya. Jika tinggi badan anak kurang dari tinggi badan normal diusianya maka berisiko mengalami stunting (perawakan pendek), jika berat badan anak kurang dari berat badan normal anak di usianya maka anak mengalami gizi kurang (underweight), dan jika berat badan anak kurang menurut tinggi badannya maka anak mengalami kekurusan (wasting). Ini terjadi karena anak mendapatkan asupan zat gizi yang tidak adekuat. Zat gizi yang diperoleh dari makanan memiliki manfaat yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak. Zat gizi memiliki fungsi memberikan energi, zat pembangun dan pengatur dalam tubuh. Jika  Kekurangan gizi terutama pada masa balita akan menyebabkan meningkatnya resiko infeksi dan kematian serta terganggunya pertumbuhan fisik dan mental. sedangkan jika anak mengalami kelebihan gizi maka meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif. Mengingat resiko kekurangan gizi yang begitu besar, maka pemantauan status gizi anak dengan pengukuran antropometri sangatlah penting agar dilakukan pencegahan yang tepat dan cepat sehingga kondisi anak tidak memburuk. Oleh karena itu, kami menghimbau kepada Bapak/Mama untuk membawa anaknya dalam operasi timbang di Posyandu.